28 March 2009

HADIAH UNTUK MINA (Terinspirasi dari kisah nyata)

“ Selamat ulang tahun, Mina.” Riuh pesta sedehana yang dirayakan dirumah Mina, disela – sela kerja kelompok aku dan teman – temanku. Wajah Mina terlihat senang dan bahagia. Dia terkejut akan hal in, aku dan teman – temanku memang sudah merencanakan kejutan ulang tahun untuk Mina.

Hey, rupanya aku belum memperkenalkan diri. Namaku Aria. Aku adalah salah satu sahabat baik Mina dan pengagum dia sejak kelas satu. Enam bulan yang lalu aku sudah menyatakan perasaanku pada Mina, tapi ditolak karena dia sudah memiliki kekasih.

“ Aria, mana kado dari kamu?” Ucap Mina.

“ Oh, Iya. Ini buat kamu.” Aku mengeluarkan kado untuk Mina dari jaketku, yang kubuat tadi malam, hanya tiga buah foto Mina yang dibingkai dengan

stik es krim.

“ Ih, Arya lucu banget, makasih yah.”

“ Sama – sama.”

Setelah perayaan itu selesai, kami pun memulai kerja kelompok. Aku senang melhat Mina bahagia dihari ulang tahunnya. Semalam dia curhat padaku, dia bilang ngerasa BT soalnya ga ada yang ngasih surprise terus ga ada pacar yang menemani di saat bahagia.aku mencoba menghiburnya, dan akhirnya dia terhibur dan meminta hadiah ulang tahun padaku. Dasar anak manja.

“ Eh, aku pulang duluan, udah disuruh pulang” Ucap Dimas.

“ Mas, tungguin bentar aku belum beres “ Ucap Desi.

Dimas Menunggu Desi di teras rumah Mina.

“ Mas kenapa udah pulang?” Tanya Ikal.

“ Udah ditungguin dirumah, soalnya mau pergi.”

“ Ohh, Kayaknya aku pulang sekarang. Gori, kita udah beres ‘kan?

” Udah.” Jawabku. Gori adalah sapaan Ikal dan anak – anak disekolah, mungkin badanku tinggi besar, jadi kayak gorilla.

“ Semuanya, aku pulang duluan” Ucap Dimas.

“ Dahh, semuanya” Ucap Desi sambil melambaikan tangannya.

“ Hati – Hati, makasih ya semuanya” Ucap Mina.

Dimas dan Desi meluncur pulang. Lalu Ikal pun menyusul pulang.Tinggal aku, Mina dan Ibunya, dirumah.

“ Aria makasih yah buat semuanya.” Ucap Mina

“ Sama – sama, ini bukan ide aku tapi anak – anak, ya aku sih hanya tim penghiburlah. Hahaha”

Mina Hanya tertawa geli. Aku dan Mina bersenda gurau diteras. Hanya ini yang bisa aku lakukan pada Mina. Memberinya hadiah kecil mungkin menurut orang banyak ini hanyalah sebuah lelucon, ga ada harganya. Tetapi makna yang ada dibalik semua itu adalah sebuah cinta dan keindahan hidup ini.

Setelah puas bercanda bersama Mina aku pamit pulang pada Mina dan tak lupa pada ibunya. Aku pulang dengan hati lega tak ada beban lagi,namun masih ada yang mengganjal dihatiku. Mungkin ada yang kurang. Oh iya aku masih menyimpan hadiah untuk Mina jilid dua. Hanya beberapa foto Mina yang diedit menjadi video slideshow.

Sesampainya dirumah aku mulai memikirkan konsep. Rada bingung juga untuk buat video kayak gini. Susahnya cari inspirasi. Mendingan nyalain komputer siapa tau keluar inspirasi, sambil ngedengerin lagunya White Lion ‘ Till Death Do Us Apart’.

“ Baby I’ll be your friend

My love will never end

Till death do us apart”

Asyik betul ngedenerin lagu ini. Pengennya jadi kenyataan. Hahaha. Suara dari Mike Tramp membuat arus khayalku terbang ke angkasa untuk meraih inspirasi. Tak lama inspirasi pun datang, kugambar storyboard – nya biar ga lupa. Aku cek beberapa software yang cocok untuk proyek ini. Baiknya aku coba Windows Movie Maker.

Setelah kucoba ternyata ada yang kurang dari software ini. Mungkin yang satu lagi , Adobe Premire Pro. Setelah dilihat ruang kerjanya, ternyata cocok. Baiklah aku memulai dengan mengedit beberapa foto Mina.

“ I, cepetan pake komputernya, kakak mau pake” Ucap Kakakku dibalik pintu ruang komputer.

“ Iya, bentar lagi” terpaksa aku tunda pekerjaanku. Tapi tak apalah. Lagi pula konsepnya belum matang. Masih ada yang harus ditambah.

Masuk kedalam kamarku dan ganti baju, terlentang dikasur busa sambil melihat langit - langit. Rasanya baru kemarin aku berjumpa Mina, saat psikotes disekolah. Saat itu baru saja masuk SMA. Padahal sudah setahun lebih kejadian itu. Sungguh indah, baru pertama aku melihat wanita secantik dia tentunya setelah ibuku.Matanya, wajahnya, tutur bicaranya, dan masih banyak hal yang membuat dia begitu indah. Aku merasa dialah pelabuhan hatiku. Walaupun saat itu aku sudah memiliki kekasih. Tetapi dia begitu indah.

Semakin lama semakin hebat perasaan ini padanya. Apalagi dia mulai curhat denganku. Aku makin mengenal dan mengerti bagaimana memperlakukan wanita, dan aku mulai tahu bahwa wanita itu adalah mahluk yang sensitif.

Mimpi terus berlanjut.

Esok harinya disekolah, pada saat istirahat. Sama dengan hari yang lain penuh dengan canda tawa dikelas, namun ada yang aneh dengan Mina, dia melamun dan tidak terganggu dengan ributnya kelas.

“ Na?” Sapaku

“ apa?”

“ Kenapa? Kok kamu keliatannya ngelamun aja?”

“ Nggak apa – apa. I perhatiin aku aja. Jadi malu”

“ Dasar kamu. Geer.”

“ Aria, aku mau nanya, susah ga bikin figuranya?”

“ Lumayan sih, agak pegel waktu motongin stik es krimnya”

Aku dan Mina pun berbincang – bincang hangat,tak terasa bel masuk pelajaran pun berdentang.

Jam berpacu begitu cepat, tak terasa bel pulang berdentang. Riuh suara anak – anak keluar dari tiap kelas. Aku pun bergegas untuk pulang karena masih ada yang harus dikerjakan.

“ Aria!!”

Aku berhenti sejenak dan menoleh kebelakang, ternyata Mina yang memanggilku.

“ Apa?”

“ kamu pulang sama siapa.”

“ Sendiri”

“ Anterin aku pulang yah, da baik”

“ Loh, ga bareng Syifa?”

“ Nggak. Soalnya dia latihan paduan suara”

“ Oke.”

Sesampainya di tempat parkir aku menyalakan motorku. Walaupun jadul tetap bisa ngebut, coy!

“ Ini, motor kamu?” Tanya Mina.

“ Iya, kenapa aneh yah?”

Nggak, kerena aja motornya”

“ Pastinya, gak akan jauh sama yang punya. Ayo kita naik takut macet.”

Mina naik motorku. Hatiku berbunga – bunga, akhirnya kesempatan ini datang juga padaku. Aku antarkan Mina menuju rumahnya. Tiap kelok jalanan , tak terasa rangkulan Mina pada pinggangku semakin erat, semakin berbunga – bunga saja hati ini. ‘ Si Lender ’ kubawa agak ngebut agar rangkulan ini semakin erat.

“ Aria, pelanin bawanya. Takut nih.”

“ Kenapa? Katanya pengen cepet – cepet pulang?”

“ Bukan gitu, aku takut dan kamu tau ’kan bensin lagi mahal?”

Aku nurut saja perkataan Mina. Bagaimana pun dia wanita tak bisa diajak ngebut. Tak terasa, kami sudah sampai didepan rumah Mina.

“ Udah sampai ditujuan, neng.” Ucapku menirukan suara tukang ojeg.

“ Oh, jadi berapa ongkosnya mang?”

“ Buat neng mah gratis, kan neng cantik.”
Mina tertawa geli. Dan wajahnya memerah.

“ Besok ada PR gak?”

“ Gak tau. Ntar kalo ada aku SMS kamu. I mau masuk dulu?”

“ Gak ah, mau pulang. Udah laper.”

“ Kalo mau makan mah disini aja.”

“ Ga Ah malu”

Aku pamit pada Mina untuk pulang. Kutancap sepeda motorku menuju rumah untuk mengerjakan surprise jilid dua. Indahnya hari ini, parfum Mina masih melekat pada jaketku, nampaknya jaket ini takkan kucuci, :D . Hari ini mungkin anugerah dari Tuhan. Terimakasih Tuhan,

Sesampainya dirumah aku langsung mengerakan pembuatan video slide. Semua sudah disiapkan, foto mina Puisi dan buku tutorial yang kupinjam dari kakakku.

Hari yang kunanti akhirnya tiba, semua sudah selesai. Video slide buat Mina. Tinggal memberikan padanya hari ini. Lebih baik aku telepon dia. Takutnya dia tak ada dirumah.

“ Halo” Ucapku

“ Halo, ada apa Aria?”

“ Kamu lagi dirumah gak,aku mau kesana sekarang.”

“ Iya dirumah, mau ngapain?

“ Ada siapa aja? Mau maen aja. BT malam Minggu ga kemana – mana. Sambil ngasih sesuatu buat kamu.”

“ Ada anak – anak cewek. Okay”

“ Sip, bentar lagi Aria kesana”

Kututup telepon. Langsung aku tancap sepeda motorku. Angin malam menusuk tulangku tak kuhiraukanm tujuanku hanya satu, Mina.

Sesampainya di rumah Mina, kupencet pintu bel rumah Mina. Dan ibunya yang membuka pintu untukku.

“ Eh, Aia. Mau ke Mina?” Ucap Ibu Mina.

“ Iya tante, Minanya ada?”

“ Ada, bentar tante panggilin.”

Ibu Mina masuk untuk memanggil Mina. Aku menunggu di teras depan , duduk dikursi kayu. Sambil melihat ke langit luas. Tak lama kemudian Mina keluar dan menemaniku diteras depan.

“ Hai, Aria. Sama siapa kamu kesini?”

“ sendiri. Eh anak – anak kemana. Kok gak keliatan?”

“ Udah pada pulang. Kemaren kan abis nginep disini. I katanya kamu mau ngasih surprise lagi buat aku” Ucap Mina sambil duduk disampingku.

“ Loh, siapa yang mau ngasih surprise kamu !” Ucapku dengan nada ketus.
” Katanya ditelepon mau ngasih surprise. Ah kamu mah. Ya udah aku masuk.” Mina berdiri dan berjalan menuju pintu, lalu aku memegang tangannya.

“ Na, jangan pergi dong. Nih, surprise – nya.” Kukeluarkan CD yang berisi video slide.

“ Ini apa?”

“ itu namanya CD !”

“ Iya, tau. Tapi isinya apa?”
” Hehehe. Tonton aja deh pokoknya surprise.”

Mina kembali duduk disampingku setelah tadi hampir saja dia ‘kabur’ dariku. Semoga dia semakin tau isi hatiku walaupun dia sudah tau isi hatiku.

“ I, aku mau cerita.”

“ cerita apa?’

“ Ih ini bagus ceritanya. Tapi aku malu buat nyeritainnya. Hehe”

“ Ga usah malu. Sok cerita.”

“ Kamu tau’ kan pas aku ulang tahun?”

“ Tau. Terus?”

“ Kan, kalian udah pada pulang. Gak lama kemudian Eki datang kerumah pake mobil, terus dia ngasih kado boneka Snoopy. Aku seneng banget. Terus dia nembak aku. Indah banget tanggal jadiannya pas aku ulang tahun.”

MHH...... dadaku tersentak, lupa akan bernapas. Hatiku luka lagi. Mina tak sengaja merobek hatiku lagi. Luka lama menganga lagi. Sakit. Entah harus bagaimana.

“ I. Kamu kenapa?” tanya Mina.

“ Enggak apa – apa. Cuman keselek”

“ Nih, minum atuh.”

“ Ga, usah.”

Lalu Mina kembali bercerita

“ Sebenernya dia gak terlalu ganteng. Cuman tajir. Banyak yang suka, mantannya ga ada yang gagal.”

Begitu rupanya. Hati ini menjadi hancur berantakan. Setelah mendengar kata – kata itu. Eki memang gak ganteng, cuman duitnya yang ganteng gak ketulungan.

“ tapi, I. Sebenernya aku sekarang mau serius pacaran gak kayak dulu lagi.”

“ Ya bagus kalo gitu.”

“ Tapi, dia siap gak yah buat serius.”

“ Yang namanya cowok harus siap dalam keadaan apapun.”

Setelah Mina selesai bercerita. Aku pamit pulang pada Mina dan Ibunya. Aku pulang dengan perasaan hancur, ingin menangis tapi air mata tak ingin keluar. Harus bagaimana lagi. Desir angin dipepohonan seperti meledekku sepanjang jalan pulang.


Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamarku dengan muka ditekuk. Aku hanya bisa tertunduk lesu menyembunyikan rasa sedihku dari kakakku.

“ I. Kenapa kamu manyun?” Tanya kakakku.

“ Gak apa – apa cuman pusing”
” minum obat.”

Tak kuhiraukan kakakku. Aku larut dalam kesedihanku. Di kamar, sendiri dengan lampu kumatikan, dan sayup - sayup radio memutarkan lagu – lagu slow rock. Ingin sekali aku menangis tapi air mata tak keluar. Apa salahku. Hingga Mina bersama dia? Apa kekuranganku? Siapa yang harus aku salahkan? Apakah ini salahku, salah Mina, atau keadaan, mungkinkah takdir? Tuhan berilah hambamu ini petunjuk.

Dua hari kemudian....

Pagi hari di sekolah dan aku baru saja masuk kedalam kelas. Dan Mina sudah berada dimejanya. Sendiri.

“ hai, Mina.” Sapaku.

“ Hai, Aria.”

“ Na, gimana suka videonya?”

“ suka. I. Itu beneran perasaan kamu sama aku?”

“ Iya. Komentar kamu tentang videonya gimana?”

“ Bagus banget. Aku suka sama puisi yang terakhir”

“ Baguslah. Na mungkin ini bukan saat yang tepat buat bicarain hal ini kekamu.”

“ Loh, kamu mau bicara apa?”
” Aku pengen nepatin janjiku sama kamu.”

“ Janji yang mana?”

“ Yang 6 bulan yang lalu. Tapi kenyataannya kamu sudah ada yang memliki.”
” Maafin aku Aria. Untuk sekarang aku lebih nyaman kamu jadi kakak aku, pelindung aku. Mungkin jadi pacar gak bisa. Kan mencintai ga selalu memiliki.

“ Ya gak apa – apa. Aku ngerti kok sama keputusan kamu.’

“ Tapi, Aria. Kamu gak akan berubah kan?”

“ Enggak Mina, aku tetep sayang kamu kok.”

“ Gak, akan beda kan?

“ Gak, ngapain beda sama kamu. Tetep kayak dulu kok.”

“ Baguslah. Aku takutnya kamu berubah udah tau aku punya pacar dan ga nepatin janji aku sama kamu.”

Bel masuk sekolah sudah berdentang. Dan aku masih berat melepas dia.

Dirumah, selepas sekolah aku hanya bisa melamun lagi. Ada apa denganmu Mina?. Mengapa kamu tidak bisa menepati janjiku: “ Aku bakalan nungguin kamu sampai kamu putus dengan Ihsan.” Itulah janjiku. Aku gak mungkin mengingkari janjiku sendiri.

HP – ku bergetar dan telepon dari Mina. Terdengar suara Mina seperti habis menangis.

“ Halo, Aria”

“ Apa?”

“ aku pengen ketemu kamu.”

“ Kenapa?”

“ pokoknya pengen ngobrol sama kamu”
” mau dimana? “

“ di Cafe Amigos”

“ Ya udah aku kesana.”

Aku bergegas menuju Cafe Amigos. Ada apa? Mina sepertinya mengalami sesuatu. Sesampainya disana, aku langsung menuju lantai dua dimana biasa aku dan teman – teman menghabiskan malam Minggu, dan Mina sudah ada disana. Terlihat mata Mina merah, nampaknya dia baru saja menangis.

“ Hai, kenapa?’

“ Aria, maafin aku lagi.”

“ kenapa?”

“ Aku baru inget sama janji kamu. Mau nungguin aku putus sama Ihsan.”

Ternyata dia ingat. Kukira dia lupa, dan memang lupa akan janjiku.

“ Kok, jadi rumit gini.” Mina bersandar di lenganku dan menangis sejadi - jadinya.

“ Mina. Aria juga gak nyangka bakalan kayak gini. Percuma Aria nungguin kamu. Percuma Aria ngedeketin kamu selama setahun.”

“ Maafin aku Aria. Aku gak bakalan lupa lagi.”

“ ternyata betul apa yang dikata orang. Pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu.”

“ Aria. Maafin aku lagi, aku cuman ngejar status. Aku gak mau jomblo lama. Tapi ternyata kayak gini. Dan aku baru tahu Eki gak bisa serius buat pacaran sama aku.”

“ Maafkan juga aku Mina. Sepertinya aku akan berhenti berharap tentang kamu, dan melupakan janjiku.

“ Tapi, Aria. Kamu gak akan berubah kan?”

“ Entahlah.” Aku berdiri meninggalkan Mina seorang diri. Aku bergegas pulang.

Sesampainya dirumah, aku mecoba untuk merenung, apakah benar perbuatanku pada Mina? Aku masih sakit hati, dia telah mematahkan hatiku. Nampaknya aku tak bisa memaafkan Mina saat ini. Harus aku lupakan celotehan, candaan, tawa, senyuman,sayang, dan cinta dari Mina. Selamat tinggal Mina. Mungkin aku tak akan Berharap tentang dirimu lagi.

Enam Bulan Kemudian

Dipulau Bali.........

Sunset di pantai Kuta sangat Indah disertai ombak berkejar - kejaran, menjilati bibir pantai dan angin sepoi – sepoi membelai hatiku. Aku khusyuk melihat itu semua, tak ada yang mengganggu. Terbuai indahnya Pantai Kuta.

“ Say.... serius banget, sih?”

“ eh.. kamu, lagi asyik nih. Abis darimana?” Ucapku

“ Abis beli snack, Buat Kita makan disini.”

“ Bagus. Kamu tau aja kalau kakang prabunya lagi lapar.

Dia hanya bisa tertawa geli dan dia duduk disampngku, merebahkan badannya dibahu kiriku, dia menemaniku menikmati indahnya pantai kuta. Dia adalah Mina wanita yang kukejar dan kulupakan. Kini menjadi milikku dan aku harus menjilat ludahku sendiri.

“ Say... gak kerasa yah udah tiga bulan kita jadian” Ucapku.

“ Iya. Terus pas banget sama liburan ke Bali.” Ucap Muna

“ Jadi romantis di pulau eksotis. Hahaha”

“ Iya. Sekolahan kita baik ngasih liburan ke Bali. Indah banget rasanya aku gak mau pulang pengen tetep disini.”

“ Sok aja kamu disini sendirian. Tapi aku pulang serombongan sama sekolah. Hahaha. “

“ Aria.. Pokoknya gak ada yang bisa misahin kita “

“ Iya. Sampai maut memisahkan kita.”

“ Iya. Selamanya cinta sama kamu.”

“ Na, saat ini kau ada disampingku, menyaksikan matahari terbenam dipinggir pantai. Ombak menjilati matahari yang malu meninggalkan kita disini, angin sepoi membawa cinta diantara kita disimpan di langit ketujuh agar abadi dan diberkati.

“ Aria. Kamu bisa aja bikin aku malu. Tapi bagus juga.”

“ Hehehe. Semoga aja kita selalu bersama.”

Pelukan Mina semain erat dipinggangku. Ku tatap wajah Mina. Kudekatkan wajahku ke wajahnya, tak terasa bibirku mencentuh bibirnya, kulumat bibir Mina. Kucium Mina dipinggir pantai Kuta. Tak peduli banyaknya orang depanku melewat sambil melihat kearah kami. Indah kemenanganku atas semua perjuanganku. Di atas pasir, senja pantai Kuta. Kunikmati matahari terbenam dan bibir Mina.

Semoga aku dan kamu, Mina. Tak ada yang bisa memisahkan.

Amin.

HADIAH UNTUK MINA (Terinspirasi dari kisah nyata)